PULAS (Puyuh Andalas) merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat yang hadir untuk mendorong pengembangan usaha peternakan puyuh agar semakin produktif, mandiri, dan mampu menjawab kebutuhan pasar. Program ini berangkat dari potensi usaha yang telah dirintis oleh masyarakat, kemudian dikembangkan melalui peningkatan kapasitas produksi, penguatan sarana dan prasarana, serta peningkatan kemampuan kelompok dalam mengelola usaha secara berkelanjutan.
PULAS dijalankan oleh kelompok yang terdiri dari 5 orang anggota, yang pada awalnya memulai usaha dengan jumlah burung puyuh hanya beberapa ratus ekor. Dengan semangat untuk terus belajar dan mengembangkan usaha, kelompok secara bertahap meningkatkan kapasitas produksinya. Saat ini, usaha tersebut telah berkembang hingga mencapai sekitar 6.000 ekor burung puyuh, sebuah perkembangan yang menunjukkan bahwa usaha peternakan skala masyarakat dapat tumbuh menjadi kegiatan ekonomi yang memiliki prospek dan pasar yang semakin luas.
Dalam proses pengembangannya, program PULAS mendapatkan dukungan melalui perluasan dan pengembangan kandang, bantuan bibit, pakan, serta vitamin. Dukungan tersebut diberikan untuk membantu kelompok meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kesehatan dan kualitas ternak. Tidak hanya berfokus pada penambahan jumlah ternak, program juga diarahkan untuk membangun kapasitas kelompok agar mampu mengelola usaha peternakan secara lebih baik, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan pasar.
Pertumbuhan jumlah ternak kemudian diikuti dengan semakin luasnya jaringan pemasaran. Telur puyuh yang dihasilkan oleh kelompok PULAS kini telah mampu masuk ke Mall Suzuya Banda Aceh, salah satu jaringan supermarket besar di Provinsi Aceh. Selain pasar modern, produk telur puyuh juga dipasarkan ke berbagai pasar tradisional di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar. Masuknya produk ke pasar modern menjadi salah satu pencapaian penting bagi kelompok, karena menunjukkan bahwa produk hasil pemberdayaan masyarakat memiliki peluang untuk bersaing dan memenuhi kebutuhan konsumen dengan pasar yang lebih luas.
Perjalanan PULAS tentu tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi kelompok adalah meningkatnya biaya pakan ternak. Kondisi tersebut semakin berat setelah banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Aceh pada akhir tahun 2025, yang turut berdampak terhadap ketersediaan dan harga berbagai kebutuhan peternakan. Harga pakan ternak mengalami kenaikan yang sangat signifikan, bahkan mencapai sekitar 200% dibandingkan harga sebelumnya. Bagi peternak, kenaikan tersebut menjadi persoalan serius karena pakan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam operasional usaha.
Kondisi tersebut kemudian mendorong lahirnya sebuah inovasi. Kelompok PULAS bersama perusahaan tidak hanya mencari solusi jangka pendek untuk menghadapi kenaikan harga pakan, tetapi mulai melihat peluang untuk memproduksi pakan ternak unggas secara mandiri. Untuk meningkatkan kemampuan kelompok, dilakukan pelatihan pembuatan pakan ternak unggas bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Aceh.
Pelatihan ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kapasitas dan kemandirian kelompok. Para anggota tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai bahan-bahan yang dapat digunakan, tetapi juga belajar mengenai proses pencampuran, formulasi, kualitas bahan, hingga bagaimana menghasilkan pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak. Dengan pengetahuan tersebut, kelompok diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial sekaligus memiliki alternatif untuk mengendalikan biaya produksi.
Inovasi pembuatan pakan mandiri menjadi bukti bahwa pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada pemberian bantuan sarana produksi. Ketika menghadapi tantangan baru, kelompok didorong untuk belajar, beradaptasi, dan menemukan solusi sendiri. Inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama PULAS: kemampuan untuk tumbuh bersama tantangan.
Bagi kelompok, setiap perkembangan bukan hanya tentang bertambahnya jumlah burung puyuh atau meningkatnya jumlah telur yang dihasilkan. Lebih dari itu, PULAS telah menjadi proses belajar untuk membangun sebuah usaha yang semakin profesional. Dari yang awalnya hanya memelihara beberapa ratus ekor puyuh, kini mereka telah mengelola ribuan ekor ternak, memiliki akses ke pasar modern, memasok pasar lokal, serta mulai mengembangkan kemampuan untuk memproduksi pakan secara mandiri.
Bagi PT Solusi Bangun Andalas, PULAS merupakan bagian dari komitmen pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan potensi ekonomi lokal. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan kapasitas kelompok, perluasan akses pasar, efisiensi biaya, dan keberlanjutan usaha. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk BPVP Aceh, menjadi bagian penting untuk memastikan pengetahuan dan keterampilan yang diberikan dapat terus berkembang di tingkat masyarakat.
Ke depan, PULAS diharapkan mampu terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, memperluas jaringan pemasaran, serta semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pakan ternaknya. Dengan pengelolaan yang baik, inovasi yang berkelanjutan, dan dukungan kolaborasi berbagai pihak, usaha peternakan puyuh ini memiliki peluang untuk berkembang menjadi salah satu usaha unggulan masyarakat yang mampu menciptakan nilai ekonomi dan membuka peluang kesejahteraan bagi anggotanya.
PULAS bukan sekadar cerita tentang 6.000 ekor burung puyuh dan ribuan telur yang dihasilkan setiap hari. PULAS adalah cerita tentang lima orang yang berani memulai dari kecil, bertumbuh melalui proses, menghadapi tantangan, dan terus mencari inovasi untuk menjaga usaha tetap hidup dan berkembang.
Dari beberapa ratus ekor menjadi ribuan ekor, dari pasar tradisional hingga pasar modern, dan dari ketergantungan terhadap pakan hingga mulai mampu membuat pakan sendiri. PULAS membuktikan bahwa ketika potensi lokal bertemu dengan kemauan untuk belajar dan berinovasi, sebuah usaha kecil dapat tumbuh menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.